Negeri Matador Sudah Juara, Titik!

OPINI 20 Jul 2026 19:19 4 min read 99 views By Rahmat

Share berita ini

Negeri Matador Sudah Juara, Titik!
Di atas rumput hijau, dunia menyaksikan pertemuan dua raksasa. Peringkat pertama FIFA melawan peringkat kedua FIFA.

Tidak percaya? Mari kita bahas. Tapi sebelumnya, judul di atas tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap pendukung dan performa dahsyat timnas Argentina.

 

Final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan La Furia Roja Spanyol dan La Albiceleste Argentina tampaknya akan memberi sebuah kisah yang sangat menarik.

 

Di atas rumput hijau nanti, dunia menyaksikan pertemuan dua raksasa. Peringkat pertama FIFA melawan peringkat kedua FIFA. 

 

Dua negara dengan tradisi sepak bola yang berbeda, tetapi sama-sama percaya bila bola tidak hanya ditendang dengan kaki, juga dengan insting dan akal.

 

Kisah sesungguhnya justru berada beberapa meter dari garis lapangan. Di sana berdiri dua pelatih hebat, Luis de la Fuente dan Lionel Scaloni.

 

Segalanya di Spanyol

 

Tahun 2017 silam, tepat saat Scaloni mengambil kursus kepelatihan Lisensi Pro UEFA dengan posisinya saat itu masih menjadi asisten pelatih Sevilla mendampingi Jorge Sampaoli.

 

Scaloni tidak sendirian, diikuti juga oleh sejumlah mantan pemain bintang asal Argentina seperti Javier Saviola dan Fernando Redondo.

 

Kala itu PSSI-nya Spanyol, RFEF, menyelenggarakan kursus kepelatihan di Madrid, Las Rozas, yang menjadi markasnya. 

 

Mereka menawarkan kelas bagi yang ingin terjun ke dunia kepelatihan, termasuk program khusus untuk pemain yang telah bermain setidaknya delapan tahun di Spanyol.

 

Scaloni sendiri telah malang melintang di Negeri Matador dengan membela Deportivo La Coruna, Racing Santander, dan Real Mallorca. Ia juga kebetulan beristri orang Spanyol, Elisa Montero.

 

Ketika itu Scaloni masih berusaha memahami sepak bola di ruang kelas kepelatihan Federasi Sepak Bola Spanyol di Las Rozas. 

 

Di depan kelas berdiri Luis de la Fuente, salah seorang pengajarnya. Scaloni sendiri berkali-kali mengakui bahwa De la Fuente adalah sosok mentor yang memberi pengaruh besar terhadap cara pandangnya tentang sepak bola.

 

Kini keduanya bertemu kembali bukan di ruang belajar, namun di panggung terbesar sepak bola dunia.

 

Hubungan itu menjadi semakin menarik karena hidup Scaloni sendiri telah lama menyatu dengan Spanyol. 

 

Belum lagi para punggawa Argentina di Piala Dunia 2026, semuanya pernah berkiprah di Spanyol. 

 

Sebut saja misalnya Julian Alvarez, Giuliano Siemone, Thiago Almada, Nahuel Molina, bahkan Rodrigo De Paul sebelum ke Inter Miami, juga di Spanyol.

 

Jangan tanya sang kapten Argentina, Lionel Messi sejak umur 13 tahun sudah bergabung di akademi Barcelona, La Masia. 

 

Selama 23 tahun lamanya, Messi yang dijuluki La Pulga menghabiskan karier sepak bolanya di negeri Matador, lalu ke PSG dan terakhir ke Inter Miami.

 

Karena itulah final ini terasa begitu puitis dan melankolis. Scaloni akan memimpin Argentina bersama skuadnya, tetapi mereka semua sebagian hidupnya pernah berada di kubu lawan. 

 

De la Fuente juga tidak sedang menghadapi orang asing. Ia melihat seorang murid yang berhasil melampaui banyak ekspektasi. 

 

Dari pelatih muda yang dulu mencatat pelajaran di kelas, Scaloni kini menjelma menjadi salah satu pelatih paling sukses dalam sejarah Argentina. 

 

Jika seorang guru diukur dari keberhasilan muridnya, maka De la Fuente sesungguhnya sudah menang bahkan sebelum peluit pertama dibunyikan.

 

Tentu, sepak bola selalu memiliki ironi. Seorang guru ingin muridnya berhasil. Tetapi di final Piala Dunia, keberhasilan murid berarti kegagalan gurunya. 

 

Sebaliknya, kemenangan sang guru akan menjadi pelajaran terakhir bagi muridnya. Di sinilah olahraga berubah menjadi drama kemanusiaan.

 

Menariknya lagi, keduanya sama-sama percaya bila sepak bola adalah permainan kolektif. De la Fuente membangun Spanyol sebagai mesin yang bergerak serempak, di mana setiap pemain adalah bagian dari orkestra. 

 

Scaloni membangun Argentina yang lentur, mampu berubah mengikuti lawan, tetapi tetap menjaga identitasnya sebagai tim yang berani menderita demi kemenangan. 

 

Mungkin itulah sebabnya final ini terasa begitu istimewa. Dunia tidak sedang memilih apakah sepak bola Amerika Selatan lebih hebat daripada Eropa.

 

Dunia juga tidak semata-mata menunggu apakah Argentina mempertahankan kejayaannya atau Spanyol melanjutkan kebangkitannya.

 

Yang sedang dipertontonkan adalah perjalanan ilmu. Bahwa seorang guru tidak pernah benar-benar kehilangan muridnya. Dan seorang murid, setinggi apa pun ia terbang, tetap membawa jejak tangan gurunya.

 

Ketika peluit panjang nanti berbunyi, salah satu akan mengangkat trofi. Tapi keduanya telah membuktikan satu hal—ilmu yang diwariskan tidak pernah kalah. 

 

Ya, ilmu hanya berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, lalu kembali bertemu di panggung sejarah.

sekianG**

Zatera News