Belajar dari Bali, Bupati Bone Siapkan Lompatan Peternakan: Tak Lagi Jual Sapi Hidup, Bidik Hilirisasi dan Teknologi

BONE 23 Aug 2026 20:04 5 min read 44 views By Yusnadi

Share berita ini

Belajar dari Bali, Bupati Bone Siapkan Lompatan Peternakan: Tak Lagi Jual Sapi Hidup, Bidik Hilirisasi dan Teknologi
Di tengah musim kemarau yang melanda kawasan Pulukan, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Bali, Jumat (21/8/2026), Andi Asman melihat langsung bagaimana peternakan sapi dikelola dengan pendekatan yang terukur, mulai dari pembibitan, pakan, reproduksi, hingga kesehatan hewan.

BALI, ZATERANEWS.COM – Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman dari kunjungannya ke Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Denpasar di Pulukan, Bali. Yang dibawa pulang adalah gagasan besar untuk mengubah wajah peternakan sapi Bone dari pola tradisional menuju sistem modern berbasis teknologi dan hilirisasi.

 

Di tengah musim kemarau yang melanda kawasan Pulukan, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Bali, Jumat (21/8/2026), Andi Asman melihat langsung bagaimana peternakan sapi dikelola dengan pendekatan yang terukur, mulai dari pembibitan, pakan, reproduksi, hingga kesehatan hewan.

 

Menurutnya, masa depan peternakan Bone tidak cukup hanya mengejar jumlah populasi ternak. Yang lebih penting adalah menghasilkan sapi berkualitas dengan bobot dan nilai ekonomi yang tinggi.

 

“Yang kita mau bukan banyaknya sapi, tapi satu ekor sapi yang berbobot,” tegas Andi Asman.

 

Kunjungan kerja tersebut turut diikuti Ketua TP PKK Kabupaten Bone Hj. Andi Maryam Andi Asman bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Bone. Rombongan diterima oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH Kementerian Pertanian Dr. drh. I Ketut Wirata, M.Si., Kepala Balai Besar Veteriner Denpasar Dr. drh. I Gde Eka Budhiyadnya, M.P., Kepala BPTU-HPT Denpasar drh. I Gusti Putu Ngurah Raka, serta General Manager Corporate Secretary & CSR PT Berdikari A.S. Hasbi Al Islahi.

 

Bone Ingin Putus Ketergantungan pada Pola Tradisional

 

Bagi Andi Asman, peternakan sapi sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat Bone. Namun hingga kini, sebagian besar masih dikelola secara tradisional.

 

Karena itu, Pemkab Bone mulai menyiapkan transformasi sektor peternakan dengan menempatkan teknologi sebagai salah satu fondasi utama pengembangan.

 

“Bone sejak lahir sudah ada ternak sapi. Tapi masih dominan secara tradisional. Kita ingin peternakan itu secara modern dan berbasis teknologi,” ujarnya.

 

Salah satu hal yang menarik perhatian rombongan adalah bagaimana BPTU-HPT Denpasar mampu mempertahankan produktivitas ternak meski menghadapi kemarau panjang.

 

Di Pulukan, kawasan pembibitan seluas 102 hektare tersebut tetap mampu menjaga populasi lebih dari 1.200 ekor sapi melalui manajemen pakan yang terukur, pemanfaatan sumber air, serta pemberian pakan tambahan saat daya dukung padang penggembalaan menurun.

 

PAJASA Jadi Motor Integrasi Pertanian dan Peternakan

 

Transformasi peternakan yang dirancang Pemkab Bone akan berjalan melalui konsep PAJASA (Padi, Jagung, Sapi).

 

Konsep ini mengintegrasikan sektor tanaman pangan dan peternakan dalam satu rantai ekonomi yang saling mendukung.

 

Produksi padi dan jagung didorong meningkat, sementara limbah pertanian dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak. Di sisi lain, sektor peternakan diperkuat melalui perbaikan bibit, reproduksi, kesehatan hewan, dan teknologi budidaya.

 

“Setelah padi dan jagung produksinya terbaik, kita tata dari hulu sampai hilir. Khusus ternak besar, harapan kita Bone bisa menjadi daerah dengan populasi sapi terbesar,” kata Andi Asman.

 

Target Besar: Stop Jual Sapi Hidup

 

Yang paling menarik dari visi tersebut adalah arah hilirisasi yang mulai disiapkan Pemkab Bone.

 

Andi Asman menilai selama ini nilai ekonomi sapi banyak dinikmati daerah lain karena Bone masih menjual ternak dalam kondisi hidup.

 

Ke depan, ia ingin hasil ternak diolah lebih dahulu di Bone sehingga nilai tambahnya tetap berputar di daerah.

 

“Sapi yang keluar dari Bone ke depan harapan kita tidak lagi dalam keadaan hidup. Kita ingin hasilnya diolah di Bone,” ujarnya.

 

Menurutnya, hampir seluruh bagian sapi memiliki nilai ekonomi jika dikelola secara industri. Daging dapat menjadi produk olahan, kulit menjadi bahan kerajinan, sementara bagian lainnya bisa diolah menjadi berbagai produk pangan bernilai jual.

 

Bahkan, ia berharap produk olahan sapi dari Bone suatu saat mampu menembus pasar ekspor.

 

Benahi Bibit dan Cegah “Stunting” Sapi

 

Selain hilirisasi, perhatian besar juga diberikan pada kualitas bibit dan reproduksi ternak.

 

Andi Asman menilai pengelolaan perkawinan sapi harus lebih terarah untuk mencegah perkawinan sedarah yang dapat menurunkan kualitas keturunan.

 

Ia juga menyoroti pentingnya perbaikan pola pakan agar sapi tidak sekadar kenyang, tetapi mampu tumbuh optimal dan memiliki bobot yang lebih baik.

 

“Jangan sampai sapi kita mengalami stunting,” ujarnya.

 

Salah satu teknologi yang dinilai potensial untuk diterapkan di Bone adalah pengolahan limbah pertanian menjadi pakan fermentasi sehingga dapat dimanfaatkan sepanjang tahun, termasuk saat musim kemarau.

 

Perkuat Puskeswan dan Pendampingan Peternak

 

Pemkab Bone juga akan memperkuat layanan kesehatan hewan melalui optimalisasi Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), terutama di wilayah dengan populasi ternak yang tinggi.

 

Menurut Andi Asman, bagi masyarakat Bone, sapi bukan hanya ternak, tetapi juga aset ekonomi keluarga yang sering menjadi penopang biaya pendidikan maupun kebutuhan mendesak lainnya.

 

Karena itu, menjaga kesehatan dan produktivitas ternak sama artinya dengan menjaga ketahanan ekonomi masyarakat.

 

Di akhir kunjungan, Bupati Bone meminta Dinas Peternakan Bone menjalin komunikasi aktif dengan BPTU-HPT Denpasar agar transfer teknologi dan pendampingan dapat berlanjut.

 

“Kalau perlu belajar langsung, bertanya langsung, bahkan tinggal sementara untuk memahami teknik pembibitan dan budidaya yang berhasil diterapkan di sini,” ujarnya.

 

Dari Pulukan, Bali, Pemkab Bone membawa satu pesan penting: masa depan peternakan tidak lagi ditentukan oleh banyaknya ternak yang dimiliki, tetapi oleh kualitas, produktivitas, teknologi, dan kemampuan menciptakan nilai tambah dari setiap ekor sapi.

Zatera News