Jejak Panjang AKBP Dr. Fadli: 4 Polda, Kasus Besar, hingga Filosofi Bugis “Taro Ada Taro Gau”

BONE 03 Sep 2026 08:25 6 min read 39 views By Yusnadi

Share berita ini

Jejak Panjang AKBP Dr. Fadli: 4 Polda, Kasus Besar, hingga Filosofi Bugis “Taro Ada Taro Gau”
AKBP Dr. Fadli, S.H., S.I.K., M.Si.

BONE, ZATERANEWS.COM — Perjalanan AKBP Dr. Fadli, S.H., S.I.K., M.Si. di tubuh Polri bukan kisah tentang jabatan yang datang tiba-tiba. Jauh sebelum dipercaya menjadi Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus (Wadir Reskrimsus) Polda Sulawesi Tenggara (Sultra), ia lebih dulu ditempa bertahun-tahun di medan reserse—dari menangani pembunuhan, perampokan, perkara terorisme hingga membongkar kasus tindak pidana korupsi.

 

Kini amanah baru berada di pundaknya. Dari Kalimantan Selatan, perwira jebolan Akpol 2005 itu kembali menapaki wilayah Sulawesi. Namun, ada satu prinsip yang tetap dibawanya ke mana pun bertugas: falsafah Bugis “Taro Ada Taro Gau”—apa yang diucapkan harus sejalan dengan apa yang diperbuat.

 

Bukan Sekadar Janji, Setiap Perkataan Harus Dibuktikan

 

Bagi AKBP Fadli, kata-kata bukan sekadar ucapan. Sebuah komitmen harus memiliki bukti.

 

Sebuah janji harus memiliki tindakan.
Dan sebuah amanah harus dijawab dengan kerja nyata. Prinsip “Taro Ada Taro Gau” itulah yang menjadi salah satu nilai yang terus dipegang dalam menjalankan tugas, membangun kepemimpinan hingga menjalani kehidupan sehari-hari.

 

Nilai tersebut berjalan beriringan dengan kedisiplinan. Bagi AKBP Fadli, disiplin bukan hanya perkara waktu dan aturan. Lebih dari itu, disiplin adalah konsistensi untuk menyelesaikan sesuatu yang telah menjadi tanggung jawab.

 

Sudah berkata, harus berbuat. Sudah berkomitmen, harus dibuktikan.

 

Dibesarkan oleh Dunia Reserse

 

Dunia reserse menjadi salah satu bagian paling dominan dalam perjalanan karier AKBP Fadli.

 

Selama sekitar sembilan tahun menjalankan tugas di wilayah Jawa Tengah, sejumlah jabatan strategis pernah dipercayakan kepadanya.

 

Ia pernah menjabat Kasat Reskrim Polres Karanganyar, Kasat Reskrim Polres Brebes hingga Kasat Reskrim Polresta Solo.

 

Berbagai perkara kriminal pun menjadi bagian dari pengalaman panjangnya.

 

Pembunuhan, Perampokan, Hingga perkara terorisme. Kasus-kasus tersebut menuntut kemampuan membaca situasi, ketelitian mengurai fakta dan kecepatan mengambil keputusan. Namun perjalanan itu tidak berhenti pada kriminal umum.

 

AKBP Fadli juga semakin dalam bersentuhan dengan penanganan tindak pidana korupsi.

 

Ia pernah bertugas sebagai Kanit Tindak Pidana Korupsi dan menangani sejumlah perkara korupsi di Jawa Tengah.

 

Pengalaman tersebut kemudian menjadi modal penting ketika kariernya bergerak semakin dekat dengan dunia Reserse Kriminal Khusus.

 

Empat Polda, Rekam Jejak Tetap di Jalur Penegakan Hukum

 

Karier AKBP Fadli kemudian membawanya bertugas di sejumlah wilayah. Salah satunya di Polda Sulawesi Selatan.

 

Di sana, ia dipercaya menjabat Kasubdit III Tipidkor Ditreskrimsus Polda Sulsel.

 

Bidang pemberantasan korupsi menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan kariernya. Bersama jajaran yang dipimpinnya saat bertugas di Tipidkor Polda Sulsel, pengungkapan kasus korupsi disebut berhasil mencatatkan capaian peringkat pertama secara nasional. Namun bagi AKBP Fadli, keberhasilan penegakan hukum tidak semata-mata berbicara mengenai penghargaan.

 

Lebih jauh, pemberantasan korupsi menyangkut persoalan kepercayaan.
Ketika masyarakat menyerahkan kepercayaan kepada institusi penegak hukum, maka kepercayaan tersebut harus dijawab dengan profesionalitas dan kerja nyata.

 

Pada 2023, AKBP Fadli mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah (Sespimmen) di Bandung. Selepas pendidikan tersebut, ia kembali melanjutkan pengabdian di Kalimantan Selatan.

 

Sejumlah posisi strategis di Ditreskrimsus Polda Kalsel dipercayakan kepadanya, termasuk Kasubdit Indagsi dan Kasubdit Tipidkor Ditreskrimsus Polda Kalsel.

 

Empat lingkungan Polda yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kariernya semakin memperkaya pengalaman dalam menghadapi berbagai karakter persoalan penegakan hukum.

 

19 Bulan di Polres Banjar, Bukan Cuma Duduk di Kursi Kapolres

 

Sebelum mendapat amanah baru di Polda Sultra, AKBP Fadli dipercaya menjadi Kapolres Banjar, Polda Kalimantan Selatan. Kurang lebih 19 bulan ia memimpin satuan kewilayahan tersebut.

 

Sejumlah kasus menonjol berhasil diungkap jajaran Polres Banjar selama masa kepemimpinannya.

Mulai perkara pembunuhan, pencurian dengan pemberatan hingga tindak pidana narkotika.
Menjadi Kapolres tentu berbeda dengan menjadi perwira reserse.
Jika sebelumnya fokus pada penyelidikan, penyidikan dan pengungkapan perkara, sebagai Kapolres tanggung jawab menjadi jauh lebih luas.

 

Keamanan dan ketertiban masyarakat harus dijaga 

 

Soliditas anggota harus dibangun.
Kepercayaan masyarakat harus dipelihara. Namun karakter reserse tetap menjadi bagian dari dirinya.

 

Cepat membaca persoalan
Teliti melihat fakta. Dan mendorong setiap perkara agar ditangani secara profesional.

 

Dalam kepemimpinannya, disiplin juga menjadi bagian penting dari budaya kerja.

 

Baginya, organisasi tidak akan berjalan maksimal apabila setiap personel tidak memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing.

 

Di Tengah Kesibukan, Gelar Doktor Tetap Dikejar

 

Ada sisi lain yang membuat perjalanan AKBP Fadli menarik.
Di tengah padatnya tugas sebagai anggota Polri, pendidikan akademik tetap dijalaninya.

 

Ia menyandang gelar Doktor (Dr.) Administrasi Publik dari Universitas Hasanuddin dengan capaian IPK 3,93.

 

Pendidikan tersebut menjadi bukti bahwa pengalaman lapangan dan pendidikan akademik dapat berjalan beriringan.

 

Pengalaman membentuk ketajaman membaca persoalan.

 

Pendidikan memberikan ruang untuk melihat persoalan secara lebih sistematis dan luas.

 

Dua hal tersebut menjadi bekal yang penting bagi seorang perwira yang kini dipercaya menduduki posisi strategis di bidang reserse kriminal khusus.

 

Putra Bone yang Tak Melupakan Akar

 

Di balik perjalanan kariernya di berbagai wilayah Indonesia, hubungan AKBP Fadli dengan daerah asal dan dunia pendidikan juga tetap terjaga.

 

Ia dipercaya menjadi Ketua Ikatan Alumni (IKA) SMA Negeri 9 Bone.

 

Peran tersebut menjadi bagian dari kiprahnya di luar tugas kedinasan.

 

Bagi masyarakat Bone, perjalanan tersebut menjadi gambaran bahwa putra daerah mampu menembus berbagai ruang pengabdian melalui kerja keras, pendidikan dan konsistensi.

 

Identitas budaya pun tetap melekat.

 

Falsafah “Taro Ada Taro Gau” menjadi pengingat bahwa jabatan bukan sekadar posisi, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

 

Kini ke Polda Sultra, Tantangan Baru Menanti

 

Kini perjalanan panjang tersebut memasuki babak baru.

 

AKBP Dr. Fadli dipercaya menjadi Wadir Reskrimsus Polda Sulawesi Tenggara.

 

Amanah ini sekaligus menjadi kelanjutan dari rekam jejak panjangnya di bidang penegakan hukum.

 

Pengalaman menangani kriminal umum, perkara terorisme, tindak pidana korupsi hingga memimpin Polres menjadi bekal menghadapi tantangan baru.

 

Posisi Wadir Reskrimsus menuntut ketelitian, profesionalitas, kemampuan investigasi dan kepemimpinan yang kuat.

 

Dan semua pengalaman itu kini dibawa ke tempat tugas yang baru.

Dari ruang penyidikan hingga kursi kepemimpinan.

Dari lapangan hingga ruang akademik.

Dari Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan hingga kini Sulawesi Tenggara.

 

Lintasan kariernya boleh berpindah.

Jabatan boleh berganti.

Tetapi satu prinsip tetap dibawa.

“Taro Ada Taro Gau”: Saat Kata Harus Bertemu Perbuatan

 

Pada akhirnya, perjalanan AKBP Dr. Fadli bukan hanya tentang berapa banyak jabatan yang pernah diemban.

Bukan pula semata tentang berapa banyak kasus yang berhasil diungkap.

Ada nilai yang lebih mendasar: bagaimana sebuah amanah dijalankan.

Falsafah Bugis “Taro Ada Taro Gau” menjadi benang merah dalam perjalanan tersebut.

Apa yang dikatakan harus dilakukan.

Apa yang dijanjikan harus dibuktikan.

Apa yang menjadi amanah harus dipertanggungjawabkan.

Sebab bagi seorang penegak hukum, kata-kata tanpa tindakan tidak cukup.

Komitmen tanpa pembuktian tidak memiliki arti.

Dan jabatan tanpa tanggung jawab hanyalah sebuah gelar.

Kini, AKBP Dr. Fadli membawa prinsip itu ke Polda Sultra.

Taro Ada Taro Gau.

Berkata dengan tanggung jawab, bertindak dengan bukti. (*)

Zatera News